Kamis, 02 April 2015
Satu Jam Nonton TV Bisa Picu Diabetes
Satu Jam Nonton TV Bisa Picu Diabetes - Setiap jam yang di habiskan untuk melihat tv dapat meningkatkan resiko terserang penyakit diabetes. Suatu studi mengungkapkan, setiap jam yang di habiskan di depan TV dapat meningkatkan resiko terserang diabetes 3, 4 persen.
Beberapa peneliti meyakini bahwa terlalu lama duduk dapat meningkatkan berat badan, sebuah aspek yang berisiko untuk kesehatan. Studi itu dilakukan pada 3. 234 laki-laki dan wanita dengan berat badan yang berlebihan diatas 25 tahun.
Peneliti mengungkap bahwa resiko terserang diabetes bertambah 3, 4 persen untuk setiap jam yang di habiskan untuk melihat tv. Studi ini dipublikasikan di Diabetologia, The Journal of the European Association for the study of Diabetes.
“Intervensi yang perlu dikerjakan yaitu upaya untuk meningkatkan lebih banyak aktivitas, mengurangi berat badan serta janganlah terlalu sering duduk” kata salah satu peneliti, Dr Andrea Kriska dari University of Pittsburgh.
Di Inggris, rata-rata saat yang di habiskan untuk melihat TV sekitar empat jam per hari. Jumlah itu masih lebih sedikit dibanding warga Amerika yang menggunakan lima jam di depan monitor kaca.
Sebelumnya suatu studi mengungkapkan bahwa melihat TV selama enam jam per hari dapat kurangi ekspektasi hidup hingga lima tahun dibanding dengan seseorang yang tidak melihat TV.
Fotografer Cantik Ini Nyaris Buta Karena Lensa Kontak
Fotografer Cantik Ini Nyaris Buta Karena Lensa Kontak - Hati-hati apabila Anda memakai lensa kontak, karena alat bantu penglihatan yang ditempel pada permukaan bola mata ini bisa mengakibatkan kebutaan apabila ada bakteri di dalamnya.
Ini juga yang hampir dialami oleh seseorang fotrografer cantik bernama Lucy Garrod (27). Matanya nyaris buta sesudah bakteri pada lensa kontak yang digunakannya mengakibatkan pembengkakan pada bola matanya.
Seperti yang di kutip dailymail, Ia mengakui sudah lama mengggunakan lensa kontak, dimulai sejak berumur 15 tahun. Selama memakai lensa kontak, Lucy tidak pernah mengalami masalah dengan lensa kontak yang sudah digunakannya belasan tahun itu.
Tetapi suatu pagi ketika bangun tidur, Lucy mendapatkan matanya yang bengkak sampai seukuran bola golf dan timbul gatal-gatal di permukaan matanya.
" Itu sangatlah gatal dan biasanya bila saya menggosoknya, keadaan mata bakal baik-baik saja. Namun hari itu rasa gatal tidak juga hilang. Dua jam lalu saya melepas lensa kontak dan memikirkan mungkin saja itu yang mengakibatkan iritasi mata saya, " tuturnya seperti ditulis laman Daily Mail.
Terasa pembengkakan di matanya tidak juga hilang, Lucy selekasnya menuju rumah sakit. Dokter yang memeriksanya menyampaikan bahwa kornea matanya ditumbuhi ulkus yang membuatnya jadi membesar dan muncul rasa gatal. Ulkus ini tumbuh karena bakteri yang dibawa dari pemakaian lensa kontak dan bisa mengakibatkan kebutaan.
Dokter di rumah sakit swasta Vision Clinic lalu mengambil keputusan untuk mengoperasi mata Lucy dengan teknik laser. Tujuannya untuk memperbarui serta meningkatkan pandangan pada kedua matanya.
Sebelumnya wanita yang masih tetap berstatus mahasiswi ini takut bila mata kanannya betul-betul buta hingga dia tidak dapat merampungkan studi fotografinya di Bournemouth University.
Sampai saat ini Lucy masih tetap tidak percaya, mengapa matanya dapat mengalami infeksi separah itu hanya dikarenakan lensa kontak. Untuk memperoleh kesembuhan, ia masih melakukan terapi yang disarankan dokter.
" Saya masih sulit untuk memahami bagaimanakah lensa kontak dapat merusak mata saya sebegitu buruknya. Saya merasa sudah melakukan segalanya untuk melindungi lensa kontak tetap bersih, namun masih hampir kehilangan penglihatan sata, " tuturnya.
Rabu, 01 April 2015
Heboh, London Dilanda Demam Hijab
Heboh, London Dilanda Demam Hijab - Baju muslim berkembang sangat pesat, dalam beberapa tahun kebelakang. Saat ini baju muslim tidak hanya diminati di Timur Tengah atau negara-negara Islam yang lain, namun juga mulai merambah Eropa. Bahkan juga, beberapa merek global jenis Hermes serta Estee Lauder saat ini mulai melirik baju muslim yang di pasar global di kenal dengan modest wear ini.
Salah satu kota yang juga dijangkiti demam hijab yaitu London, Inggris. Dan, baru-baru ini Aab, salah satu merk modest wear membuka butiknya di London. Butik ini menyajikan baju muslim dan perangkatnya, dari mulai abaya sampai pilihan jilbab.
Lebih dari 2000 konsumen memenuhi toko yang ada di pusat perbelanjaan Green Street, London Timur pada Sabtu (28/3/2015) lalu. Beberapa pengunjung terlihat ketertarikan memilih koleksi yang ada. Tidak ketinggalan mereka ber-selfie ria bersama baju karya Dina Torkia, seseorang fashion blogger asal Inggris.
Perusahaan yang didirikan sejak 2007 ini bertempat di London, Inggris. Mereka membuat design asli dengan memakai desainer yang mengambil ide dari trend mode global. Aab juga melaunching koleksi eksklusif untuk high end user.
Pada awal mulanya, Aab sudah akrab melalui beberapa pengecer on-line atau pasar e-commerce. Nazmin Alim, Direktur kreatif Aab menyampaikan, pihaknya sangat puas bisa membuka toko pertamanya di London.
" Kota ini adalah pasar utama untuk kami. Ini salah satu pusat fesyen yang paling penting, " tuturnya.
Dari sisi kualitas, Nazmin memberikan, ia menyediakan kualitas premium dari merk otentik dengan lay out yang menarik. Hingga pelanggan dapat melihat, menyentuh serta merasakan produknya. Dalam website resminya, Aab menyebutkan bahwa busananya bermula dari wanita dengan kesederhanaan dan kenyamanan yang di idamkan oleh setiap muslimah.
Pengamat mode di Inggris memperkirakan baju muslim ini akan semakin mendunia. Dan Indonesia jadi salah satu pasar dan pusat baju muslim, selain Amerika, Kanada, Malaysia, dan Timur Tengah.
Kisah Perempuan Berbobot Tiga Kuintal
Kisah Perempuan Berbobot Tiga Kuintal - Saat berumur 5 tahun, Amber Rachdi sudah mengenakan baju berukuran 11 atau ukuran rata-rata yang biasa dikenakan wanita dewasa. Namun 19 tahun lalu, ukuran badan Rachdi membengkak menjadi 46. Itu berarti berat tubuhnya mencapai 657 pound atau sekitar 325 kilogram.
Rachdi yang saat ini berusia 24 tahun baru berupaya menurunkan berat badan, sesudah dokternya mengingatkan ia akan mati di umur 30 tahun bila tidak berupaya merubah kebiasaannya. Dan 'ancaman' dokter ini sangat manjur. Hanya dalam waktu satu tahun, Rachdi berhasil menurunkan berat hampir separuh berat badan sebelumnya. Saat ini berat tubuh Rachdi 'hanya' 377 pound atau sekitar 186 kilogram.
" Terkadang saya pikir saya tidak akan berubah, " tuturnya.
Rachdi terus terang mengakui, melakukan cara bariatric surgery. Suatu prosedur yang umum dilakukan pada mereka yang alami obesitas, yaitu dengan membatasi jumlah makanan yang dapat ditampung perut sekaligus mengakibatkan kegagalan penyerapan nutrisi. Sistem ini, menurut Rachdi, sangat membantunya. Karena saat berat badannya lebih 300kg merasa benar-benar tersiksa.
"Saya sangat terbatas melakukan apa yang bisa saya lakukan, atau bepergian. Saya merasa terjebak dalam tubuh besar saya," ujarnya.
Membengkaknya berat badan ini, tak lepas dari kebiasaan makan Rachdi. Ia merasa damai saat makan, dan makanan menjadi pelarian baginya dalam kondisi tertekan. Titik balik itu datang, ketika Rachdi dan keluarganya pindah ke Houston, Texas untuk menjalani bariatric surgery di bawah pengawasan Dr. Younan Nowzaradan. Rachdi memang masih harus menurunkan 9 ukuran lagi, tapi apa yang dicapainya saat ini cukup membuatnya berbesar hati.
"Saya memiliki harapan. Dunia kini terbuka untuk saya, dan saya bukan lagi amber yang terjebak dalam satu ruangan. Dan yang terpenting saya tak lagi menjadi makanan sebagai pelarian dari kecemasan yang saya rasakan," ujarnya.
Langganan:
Komentar (Atom)



