Selasa, 23 Desember 2014
Jangan Pernah Menahan Kentut Saat Berada di Pesawat
Jangan Pernah Menahan Kentut Saat Berada di Pesawat - Pernah merasa kembung dan tidak nyaman saat di pesawat? Anda tidak sendiri. Profesor klinis di University of Copenhagen, Jacob Rosenberg MD, DMSc memberitahukan bahwa tekanan udara memengaruhi saluran pencernaan sehinga membuat seseorang cenderung ingin kentut karena kembung.
“Pada dasarnya, kentut atau dalam istilah medis flatulence terjadi ketika makanan gagal diserap oleh usus, serta difermentasi oleh bakteri sehingga menghasilkan nitrogen, karbon dioksida, dan hidrogen. Inilah yang mengakibatkan kentut memiliki bau yang tidak sedap,” kata Jacob seperti yang dilansir dari liputan6.com.
Hubungannya dengan di pesawat, lanjut Jacob, tekanan udara yang semakin berkurang membuat seseorang cenderung ingin kentut lebih sering di pesawat.
“Dibanding pekerja kantoran, sekitar 60 persen pilot dilaporkan sering kembung dan ingin buang angin. Lantas apakah mesti ditahan? Jangan. Bila Anda masih muda dan sehat itu tidak masalah, namun untuk orang tua yang lemah, mungkin akan membebankan fungsi jantung,” kata Jacob.
Rosenberg juga mengaku pernah menanyai insinyur pesawat di Kopenhagen, dan ia menemukan bahwa banyak perusahaan penerbangan yang sudah menggunakan filter arang di AC untuk menyerap berbagai bau tidak enak. Dia menyarankan, agar kentut tidak bau, pastikan mengonsumsi makanan rendah serat, tetapi tinggi karbohidrat sehingga bisa menenangkan pencernaan.
Tahun lalu, sebuah studi baru mengungkapkan bahaya menahan kentut selama penerbangan. Menurut peneliti, hal semacam ini dapat berisiko menyebabkan kembung, gangguan pencernaan dan mulas.
“Ketinggian perubahan tekanan udara menyebabkan lebih banyak gas di perut. Bagi sejumlah orang, menahan kentut dapat menyebabkan rasa tidak nyaman dan bahkan rasa sakit seperti kembung, dispepsia (gangguan pencernaan), pyrosis (heartburn),” ujar peneliti.
Yang menarik, penelitian ini juga dapat mengklaim bahwa kentut perempuan lebih buruk daripada laki-laki.
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar